SHALAT SUNAT SESUDAH SHALAT JUM’AT, SHALAT SUNAT FAJAR, DAN SHALAT SUNAT IFTITAH

Pertanyaan:

  1. Empat rakaat shalat sunah sesudah shalat Jum’at dikerjakan berturut-turut dengan sekali salam, atau dua rakaat – dua rakaat dengan dua kali salam, mana yang benar dan afdhal?
  2. Shalat sunat fajar itu shalat sunat shubuh atau shalat sunat tersendiri?
  3. Shalat sunat iftitah sebelum shalat tarawih ada yang berpendapat lebih afdhal kalau dikerjakan secara berjamaah atau sendirian. Mana yang benar?

Jawaban:

Pertanyaan pertama, dapat kami berikan jawaban sebagai berikut:

Kalau melihat kepada matan/redaksi hadits Nabi saw riwayat Muslim dari Abu Hurairah ra yang berbunyi:

مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُصَلِّيًا بَعْدَ الْجُمْعَةِ فَلْيَصِلْ أَرْبَعًا. [رواه مسلم عن أبي هريرة].

Artinya: “Barangsiapa di antara kamu mengerjakan shalat sesudah (shalat) Jum’at, maka hendaklah shalat empat rakaat.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah].

Maka kita mengerjakan shalat itu empat rakaat sebagaimana kita mengerjakan shalat tarawih, yang didasarkan kepada hadits dari Aisyah, karena lafadznya berbunyi: فَلْيَصِلْ أَرْبَعًا, bukan berbunyi: فَلْيَصِلْ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ.

Pertanyaan kedua, yang dimaksud dengan shalat fajar dua rakaat itu ialah shalat sunat dua rakaat sebelum shalat shubuh. Dengan lain perkataan, shalat sunat sebelum shalat shubuh disebut juga dengan shalat fajar.

Dua rakaat shalat sunat sebelum shalat shubuh sangat dipelihara oleh Nabi saw, sekalipun beliau dalam bepergian.

Pertanyaan ketiga, mengenai shalat sunat iftitah sebelum shalat tarawih boleh dilakukan dengan berjamaah, seperti tersebut di dalam hadits yang bersumber pada shahabat Ibnu Abbas ra, yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lain-lainnya, kata Ibnu Abbas:

بِتُّ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً وَهُوَ عِنْدَ مَيْمُوْنَةَ، فَقَامَ حَتَّي ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ أَوْ نِصْفُهُ اسْتَيْقَظَ فَقَامَ إِلَى شِنٍ فِيْهِ مَاءٌ فَتَوَضَّأَ وَتَوَضَّأْتُ مَعَهُ، ثُمَّ قَامَ فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ عَلَى يَسَارِهِ فَجَعَلَنِي عَلَى يَمِيْنِهِ، ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِي كَأَنَّهُ يَمُسُّ أُذُنِي كَأَنَّهُ يُوْقِظُنِي، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ، قَدْ قَرَأَ فِيْهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ، ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ صَلَّى حَتَّي إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةٍ بِالْوِتْرِ ثُمَّ نَامَ فَأَتَاهُ بِلاَلُ فَقَالَ: الصَّلاَةُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَقَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ صَلَّى بِالنَّاسِ. [رواه أبو داود عن ابن عباس].

Artinya: “Aku bermalam di rumah Rasulullah saw pada suatu malam, ketika itu beliau berada di rumah Maimunah, lalu setelah lewat sepertiga atau seperdua malam beliau bangun dan pergi menuju ke tempat air lalu berwudlu, dan berwudlu pula kau bersama beliau. Kemudian beliau berdiri, aku di samping kirinya, lalu beliau menempatkan aku di sebelah kanannya, beliau meletakkan tangannya atas kepalaku seakan-akan beliau mengusap telingaku, seolah-olah beliau membangunkanku. Lalu Nabi saw shalat ringan dua rakaat hanya membaca Ummul Qur’an (surat Al-Fatihah) saja pada tiap rakaat, kemudian salam. Kemudian beliau shalat sampai sebelas rakaat bersama witir. Kemudian beliau tidur. Sesudah itu (sebentar kemudian) datanglah Bilal dan berkata: Shalat ya Rasulallah, maka beliau pun berdiri dan shalat dua rakaat (shalat sunat shubuh atau fajar), kemudian baru beliau shalat (berjamaah) bersama orang banyak.” [HR. Abu Dawud dari Ibnu Abbas].

Dari hadits tersebut, jelas sekali bahwa shahabat Ibnu Abbas mengerjakan shalat iftitah ma’mum bersama Nabi saw. Hanya perlu perhatian bahwa shalat sunat dilakukan Nabi saw di rumah beliau, bukan di masjid. Tetapi kebanyakan kita sekarang ini melakukan ibadah sunat di masjid; seperti shalat tarawih datang ke masjid, belum melakukan shalat iftitah karena ingin mengerjakan shalat fardlu Isya secara berjamaah lebih dahulu. Sesudah selesai shalat berjamaah Isya, tentu tidak pulang ke rumah lagi karena ingin mendengar ceramah, ini juga suatu kebaikan. Setelah mendengar ceramah baru dilakukan shalat iftitah secara berjamaah atau boleh saja sendiri-sendiri, tetapi dengan berjamaah akan lebih afdhal. Pendek kata, agama itu mudah, tetapi jangan dimudah-mudahkan. *th)

Permanent link to this article: http://sdmuhmadiun.sch.id/?p=380

Leave a Reply

Your email address will not be published.